Tentang Putri

Foto saya
jombang, jawa timur, Indonesia
1. PENGGILA KOPI 2. PENGGILA SEPATU 3. SUKA KETENANGAN

Jumat, Desember 23, 2011

Manis bukan ?



Terimakasih hujan , dan terimakasih kompetisi basket.
Yah , dua kejadian yang membuatku mengahabiskan waktu bersamanya , di hari ulang tahunnya. Aku sungguh beruntung bisa menemaninya di hari specialnya itu.
Aku orang special ? bukan berarti begitu. Kekasihnya. Yah , kekasihnyalah yang special bukan aku. Meskipun aku yang menemaninya. Karena aku hanya temannya.
Teman yang selama ini sungguh sangat mencintainya. Itulah aku.
Sempat shock saat dia menawariku untuk menemaninya melihat pertandingan basket. Bahagia ? Jelas. Aku sangat bahagia, tak pernah menyangka bahwa hari itu akan terjadi.
Dia menjemputku di rumahku , dia kelihatan begitu tampan dengan kemeja hitam dan celana jeans hitamnya. Aku sempat terpana , tapi syukurlah aku segera kembali ke dunia nyata.
Sedih bercampur bahagia. Sedih karena harus melihat mantan team basket yang pernah ku bela kalah dengan skor 29-4 , astaga ! Ku rasa dulu tak perna seburuk itu. Mengapa sekarang begini ?.
Bahagianya ? saat tertawa bersama di jalan sambil menikmati rintik hujan. Basah ? biar, sengaja aku menolak jas hujan yang dia tawarkan , inilah yang aku mau dan aku tunggu. Menikmati rintikan hujan bersamanya , yang pada akhirnya membuat hidungku dan hidungnya susah mengambil udara. Manis bukan ? yah memang sore yang sangat manis.
Saat itu rasanya aku lupa bahwa dia punya kekasih. Aku mengelitikki perutnya, aku merasakan hangat tubuhnya, aku mengatakan bahwa dia gendut , dan dia mencubitku. Sakit ? tidak. Bahagia yang aku rasa karena cubitannya , bukan sakit.
Tertawa , bercerita. Dia tak memacu motornya kencang. Pelan. Bagus , dia mengerti apa yang aku mau, agar tak cepat sampai di rumah. Agar lebih lama bersamanya.
Indahnya hari ini, terimakasih Tuhan , Kau turunkan hujan sore ini.
Inilah saat yang tak aku inginkan kehadirannya. Sampai di depan pintu rumah. Itu artinya sore yang manis ini harus segera berakhir, oh jangan ya Tuhan , hentikanlah waktu.
Kado ? yah aku hampir lupa. Aku merogoh tasku dan menggambil sesuatu yang dibalut kertas coklat polos. Aku sempat bingung harus membukusnya dengan apa.
Dia sempat bertanya, apa ini ? Aku hanya tersenyum.
Kado yang hanya merupakan simbol bahwa dia sungguh berarti. Jam tangan klasik berwarna silver, jarum jamnya unik sperti dia.
Dia unik. Matanya. Mata indah yang mampu membuatku nyaman sekaligus gugup bila memandangnya.
Akankah sore yang manis ini dapat terulang ? Entahlah ...

Minggu, Desember 18, 2011

Tak Mudah Jadi Dia



Bisakah kau membuat diriku berarti dimatamu ? sedikit saja , sekejap saja buat aku bahagia.

Sebelum semuanya terlambat , karena kita hanya akan menyadari bagaimana kita sangat menyayangi seseorang ketika seseorang itu pergi meninggalkan kita . Apalagi pergi untuk selamanya , dan kita tak mungkin memintanya untuk kembali.
Penyesalan ! Yah , yang ada saat itu hanyalah penyesalan , kita baru akan menyadari kebodohan kita saat dia telah menghilang , benar-benar menghilang. Menyadari bahwa betapa bodohnya kita karena telah menyia-nyiakan kasih sayang yang tulus dari hatinya , membiarkan dia terluka , membiarkan berjuta tetesan airmata membasahi senyum ketulasannya , menghapus bahagianya.
Jahat ? Yah , kita memang sangat jahat , tak memperdulikan dirinya sedikitpun , mengacuhkannya , membiarkan dia sendiri, padahal saat itu dia sangat membutuhkan kita . Sedangkan saat kita terjatuh , saat kita terluka , dialah orang yang pertama kali menawarkan tangannya untuk membantu kita berdiri , orang yang pertama kali menawarkan tangannya untuk menghapus airmata kita.
Dimana hati kita ? Tak memeperdulikan dia yang begitu tulus menyayangi kita.
Dia tetap sabar meskipun kau selalu dan begitu sering membuatnya terluka , dan menangis. Dengan kedua belah tangannya dia mengusap airmatanya sendiri , dan berkata "Yah , asal dia bahagia akupun akan bahagia". Tanpa mengharap kita datang , menemaninya , dan menghapus airmatanya .
Jangan menangis bila dia akan pergi dari hidupmu . Tak mudah menjadi dia , bertahan selama itu , berada di belakang kita , mendukung kita , mendo'akan kita. Sedangkan kita ? Malah menggandeng orang lain , membiarkan dia tersenyum dalam tangisnya. Tersenyum karena malihat kita bahagia , dan menangis karena hatinya begitu terluka.

Jumat, Desember 16, 2011

Gadis Kecil





Oh astaga, ternyata gadis kecil itu telah tumbuh menjadi remaja. Yang mulai ingin tahu banyak hal, yang mulai ingin mengerti bagaimana kehidupan yang sesungguhnya. Hidup jauh dari orangtua tak membuatnya menjadi gadis 'nakal'. Dia dibesarkan dengan kasih sayang yang melimpah dari kakek dan neneknya , sementara ibu dan ayahnya berjuang untuk mencarikannya sepiring nasi, dan seperangkat alat tulis.
Buku diary menemani hari-harinya, buku diary pertamanya, hadiah dari ibunya saat ia masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Saat dia mulai merasakan rindu terhadap kedua orangtuanya, ibunya mengajarkan ia untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan pada lembar demi lembar buku diary berwarna pink itu. Dan goresan pertama penanya bertuliskan *Aku sayang ayah dan bunda. Bunda sama ayah cepat pulang ya.* Tulisan yang tak jauh beda dengan cakar ayam.
Pernah suatu hari ia menangis karena mendengar perkataan orangtua temannya , yang melarang anaknya
berteman dengan gadis kecil itu. Ia merasa bahwa semua yang dikatakan itu tidak benar , ia berlari pulang ke rumah. Neneknya pun menghampiri dia yang tersungkur di atas j=kasur dengan berlinangan airmata. Mengapa kau menangis ? tanya sang nenek. Mereka bilang aku tak baik , karena aku tak bersama ayah dan ibu, ucapnya sambil mengusap airmatanya. Sang nenek hanya tersenyum dan memeluk cucunya itu.
Sabtu malam, gadis kecil itu tak kunjung tidur. Ia sempat bertanya pada neneknya, kapan ibuku pulang katanya. Neneknya menjawab , besok ibumu pasti pulang . Dan akhirnya ia terlelap.
Ia bangun pagi-pagi , dan duduk manis di depan pintu. Ia sedang menunggu kedatangan ibunya. Hingga siang menjelang , ia masih setia menunggu. Sampai akhirnya wanita berambut panjang melambai ke arahnya, itu ibunya. Ia segera bangun dari duduknya, berjingkrak senang , dan berlari menghampiri ibunya , memeluk ibunya erat.
Hal yang paling ia suka adalah , digendong diatas pundak kakeknya , diajak bersepeda , dan membeli ketan di pasar pagi-pagi buta.
Tawa polos gadis kecil kini berubah menjadi senyum manis seorang gadis yang mulai suka berdandan dan berlama-lama di depan kaca. Gadis itu kini telah berusia 17 tahun ...
Dalam hatinya telah tertanam *AKU BUKAN SEPERTI APA YANG MEREKA KATAKAN*

Kamis, Desember 15, 2011

Setitik


Apakah ini salahku jika hati ini memilihmu menjadi orang yang dicintainya ? aku hanya gadis yang belum genap berusia 17 tahun yang baru mengenal dan mengerti apa itu 'cinta'.
Dan apakah ini salahmu ? Karena kau telah muncul di hadapanku dan membiarkan sebuah rasa yang tak biasa aku rasa menggelegar di jantung dan nadiku .
Rasa yang hingga saat ini masih menancap kuat di hati. Rasa yang sulit ku hapus dengan penghapus merk steadler sekalipun. Karena kau telah menggambar 'love' dengan cat permanen , yang akan terhapus dengan datangnya kematian. Corretion pen pun tak mampu menutupinya.
Sebagai wanita biasa, yang ku mau kau selalu bersamaku , menjadi pensil warna yang akan ku gunakan untuk mewarnai hariku .
Oh sialnya ? Mengapa kau menjadi pensil warna untuk wanita lain ? Mengapa 'love' itu tak lebih dulu untukku ? Haruskah aku terus menunggu ?.
Menggapa Tuhan tak lebih dahulu mempertemukanmu denganku ? Sakitnya melihatmu mewarnai harinya dengan berjuta warna, dan memberi sedikit warna untukku.
Seringnyaku berfikir , menyusup diantara kalian dan menggali jurang perpisahan diantara kalian. Oh tapi betapa jahatnya aku bila aku seperti itu ? Menggunakan cara tak halal agar dapat membawamu pergi darinya. Yah, kau hanya bisa bersabar, dan sedikit demi sedikit memberimu petunjuk bahwa aku juga ingin hidupnya kau warnai, dan aku juga ingin harinya kau temani.
Bodoh ? apakah aku begitu ? Mencintai kau yang tak pernah mencintaiku ? Apakah kau tak mencintaiku meskipun itu hanya setitik ?. Itu hanya sedikit dari berjuta pertanyaan yang tersimpan rapih di loker otakku.
Dalam sujudku pun masih terlintas namamu, ya Tuhan jauhkanlah dan buanglah rasa ini bila dia bukan untukku, dan dekatkan bila memang kau takdirkan kau bersmanya.
Aku hanya menunggu rasa lelah yang akan merasuki hatiku , lelah menunggumu , dan pada akhirnya membuka hatiu untuk cinta yang lain. Oh kapankah rasa itu akan datang ? Masih lamakah ?.
Ataukah aku harus menunggu cintamu yang mungkin suatu saat kau berikan untuk hatiku ? Menjadi kawan sepinya hariku ?. Entahlah ...

kawannya Putri

Footer

About Author